Sektor Pertanian Hancur
YOGYAKARTA, KOMPAS - Meletusnya Gunung Merapi melumpuhkan berbagai sektor, baik periwisata, perhotelan, pertanian, peternakan, maupun perikanan. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, bahkan triliunan rupiah.
Dampak ekonomi letusan Merapi di Jawa Tengah antara lain adalah lumpuhnya wisata Candi Borobudur. Kerugian riil belum terdata seluruhnya, tetapi yang lebih penting Borobudur, yang tertutup abu vulkanik cukup parah, perlu penanganan cepat. Obyek wisata ini tutup total selama tiga minggu letusan Merapi berlangsung. "Pemerintah harus meyakinkan dunia internasional bahwa Borobudur bisa kembali dikunjungi setelah letusan Merapi usai," kata Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Magelang Sari Wahyuningsih.
Sebanyak 3.000 pedagang di Taman Wisata Candi Borobudur hampir tiga minggu menganggur. Menurut Sari Wahyuningsih, hotel di seputar Candi Borobudur juga tidak pernah lagi menerima tamu. Padahal, hotel di kabupaten Magelang itu harus mengeluarkan dana minimal Rp 20 juta untuk pembenahan serta Rp 1 juta untuk biaya bahan bakar genset karena karena listrik berhari-hari padam. Itu belum termasuk nilai pembatalan transaksi kamar.
Hancurnya bisnis hotel terparah terjadi di objek wisata Kaliurang, Sleman, DIY. Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang Christian Awuy menuturkan, ada 280 hotel dan 120 rumah makan di kawasan wisata Kaliurang tutup sejak 26 Oktober. "Kami belum bisa memperkirakan jumlah kerugian karena belum sempat berkumpul. Sekarang pengelola hotel dan rumah makan masih tercerai-berai di pengungsian," katanya, Jumat (12/11).
Menurut dia, letusan Gunung Merapi sejauh ini tidak merusak bangunan hotel. Namun, bangunan-bangunan tersebut tertutup abu cukup tebal sehingga proses pembersihannya membutuhkan waktu dan biaya.
Total jumlah kamar yang tutup selama letusan Merapi adalah 3.200 kamar, baik di hotel berbintang, hotel kelas melati, maupun pondok wisata. Pengelola hotel dan rumah makan tidak mendapatkan penghasilan selama penutupan ini.
Bukan hanya obyek wisata seputar Kaliurang yang lumpuh. Pantai Parangtritis yang jauh dari area letusan Merapi mengalami penurunan pendapatan hingga 80 persen. Imam, petugas tempat pemungutan retribusi Parangtritis-Depok, menuturkan, dalam kondisi normal, jumlah pengunjung sekitar 1.250 orang per hari, kini ada 250 pengunjung saja sudah bagus.
Pertanian
Letusan Merapi merusak sektor pertanian di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kerugian diperkirakan Rp 247,3 miliar. Tanaman rusak terdiri dari padi, buah salak, dan sayuran.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Magelang Wijayanti mengatakan, kerusakan terjadi pada sebagian besar tanaman di 12 kecamatan karena tertutup abu vulkanik. "Nilai kerugian terbesar terjadi pada tanaman salak, Rp 84,01 miliar. Nilai kerugian ini termasuk kerugian akibat ekspor salak yang tertunda karena 65 persen tanaman salak rusak dan gagal panen," katanya.
Hal yang sama dialami Kabupaten Sleman. Salak pondoh yang telah mendunia porak poranda oleh abu vulkanik. Dari 2.000 hektar kebun salak, 1.400 hektar diantaranya rusak berat.
Setiap hektar ditanami sekitar 2.000 rumpun salak dan setiap rumpun menghasilkan 10 kilogram salak per tahun. Jika dihitung dengan harga termurah Rp 5.000 per kg, maka untuk 1.400 ha kerugian mencapai Rp 140 miliar. Demikian Riyadi Martoyo, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman.
Kerusakan juga terjadi pada 201 ha hutan rakyat, 309 ha hutan negara, dan 357 ha areal perkebunan. "Erupsi Merapi menghabiskan tanaman seperti kopi, kelapa, lada, kakao, dan cengkeh, terutama di dusun-dusun di tepi Kali Gendol. Kami perkirakan kerugian sektor perkebunan mencapai 1,5-2 kali lipat dari yang kini terdata," kata Mashudi, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman.
Peternakan
Dampak di Kabupaten Sleman, DIY, dan Kabupaten Boyolali serta Klaten, Jawa Tengah, sebagai penghasil susu perah juga memprihatinkan. Ada 1.548 sapi perah di Kabupaten Sleman yang mati. "Dua koperasi susu, Usaha Peternakan dan Pemerahan (UPP) Kaliurang dan UPP Sarana Makmur sudah tiga minggu tutup. Uang yang hilang dari potensi penjualan susu sapi sekitar Rp 112 juta per hari," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman Suwandi Azis.
Di Kabupatenh Magelang, Klaten, dan Boyolali, menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Witono, 62.999 sapi perah, sapi potong, dan kerbau terancam produksinya. Banyak sapi potong yang kurus dan harga jualnya merosot sampai Rp 3 juta karena sulit mencari makanan ternak.
Di Kabupaten Magelang, menurut Tri Agung, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Magelang, ada 125.706 ekor ternak (sapi, kerbau, kambing, dan domba)terkena dampak letusan Merapi. Di sektor perikanan, luas kolam ikan yang terkena dampak 174.77 ha dan kolam mina padi 2.135,5 ha.
Kerugian perikanan di Kabupaten Sleman Rp 11,5 miliar. Kolam ikan milik rakyat yang menyebar di Kecamatan Ngemplak hampir seluruhnya terairi dari Kali Kuning yang berhulu di Gunung Merapi. Kecamatan Ngemplak dan Cangkringan adalah pemasok 80 persen kebutuhan benih ikan 60 persen ikan konsumsi di DI Yogyakarta. Karena itu, kebutuhan ikan di DIY terganggu.
"Namun, saya optimis dalam satu-dua bulan setelah erupsi Merapi berakhir, masalah di bidang perikanan akan segera teratasi. Begitu belerang tidak ada lagi di Kali Kuning, kolam-kolam akan aman," kata Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman Suparmono.
Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Sabtu, menyatakan, letusan Merapi yang berulang sejak 26 Oktober bukan letusan seperti biasa. Karena itu, dampaknya tidak terduga. Belajar dari peristiwa ini, penanganan dampak letusan Merapi untuk masa mendatang diharapkan tidak serba darurat seperti saat ini. Sultan memberi contoh, Kabupaten Sleman yang menerima dampak terparah harus berupaya lagi dari nol.
Sumber : Kompas Edisi Senin, 15 November 2010
Minggu, 14 November 2010
Jumat, 12 November 2010
Sesungguhnya, sangat bias ketika suku Mentawai dianggap sebagai suku terasing oleh pemerintah. Karena dinilai terasing, mereka dipaksa menerima peradaban baru yang bukan jati diri mereka.Tahun 1970-an, Departemen Sosial membuat program Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PKMT). Dengan program itu, suku-suku yang dinilai terbelakang dan primitif direlokasi agar menjadi lebih maju.
Dengan dalih agar mudah mengakses pelayanan publik, seperti pendidikan dan kesehatan, suku Mentawai dipaksa menerima cara hidup yang sama sekali berbeda dengan yang diajarkan leluhur mereka.
Suku Mentawai sejatinya hidup dari berburu dan meramu. Mereka hidup berkelompok dalam pola pemukiman yang disebut Uma. "Uma biasanya di hulu sungai atau tak jauh dari aliran sungai yang bisa dilalui sampan. Namun, jauh dari tepi pantai," kata penduduk asli Siberut Selatan, Yosep Sarogdok.
Menurut Sarogdok, tahu 1970-an, ketika pemerintah melaksanakan program PKMT, suku Mentawai dipindah ke pesisir dan mulai mengenal cara domestifikasi terhadap tanaman dan hewan.
Antropolog dari Yayasan Citra Mandiri, lembaga swadaya masyarakat yang fokus dalam pendampingan suku Mentawai, Tarida Hernawati, dalam bukunya, Uma Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam, mencatat, salah satu kebijakan PKMT adalah program relokasi penduduk di Pulau Siberut. Masyarakat yang sebelumnya hidup berkelompok dalam Uma masing-masing disatukan ke perkampungan yang dibentuk oleh pemerintah.
Tarida yang melakukan penelitian terhadap salah satu Uma, yakni Uma Sagulu, mencatat, akibat PKMT, klan Sagulu terpaksa pindah tempat tinggal beberapa kali. Awalnya, mereka tinggal di daerah Sungai Silaoinan, Siberut Selatan. Lewat PKMT, mereka bersama klan lain direlokasi ke Tatebburuk. Kawasan sebenarnya milik klan Tatebburuk. Pemerintah lalu memindahkan beberapa klan lebih ke pesisir, ke Dusun Puro II Desa Muntei.
"Pemerintah lalu mendatangkan perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) dan perusahaan perkebunan ke Kepulauan Mentawai. Hutan tak lagi jadi milik kami, sudah dikapling oleh pemilik modal," kata Sarogdok.
Memang tak seluruh sumber kehidupan di hutan atau hulu sungai ditinggalkan. Meski tinggal di permukiman baru, suku Mentawai tak meninggalkan tempat asal mereka. Tarida mencatat, Uma tetap jadi identitas klan, selain tanah ulayat yang menjadi tempat pemenuhan kebutuhan. Tanaman sagu, keladi, dan pisang yang menjadi bahan pokok suku Mentawai tetap ada di tempat tinggal mereka dulu. Setiap klan suku Mentawai tetap kembali ke tempat mereka mendirikan Uma secara berkala untuk mengambil sagu, keladi, atau pisang. Pemenuhan kebutuhan akan upacara adat juga dilakukan di Uma.
Masuknya perusahaan HPH dan perkebunan ke Kepulauan Mentawai membawa perubahan terhadap cara hidup warga Mentawai. Mereka mulai mengenal uang sebagai alat tukar.
Rachmadi dari Perkumpulan Telapak Indonesia yang melakukan banyak aktivitas pembangunan masyarakat dan pendampingan suku Mentawai menuturkan, hingga tahu 1996, suku Mentawai masih menggunakan sistem barter dalam aktivitas ekonomi. "Masuknya perusahaan perkebunan dan pemegang konsesi HPH membuat suku Mentawai mengenal uang sebagai alat pembayaran," kata Rachmadi, yang beraktivitas di Kepulauan Mentawai sejak 1995.
Ada hal positif yang dicatat Rachmadi dari intervensi pemerintah, yakni suku Mentawai makin mengenal pendidikan sebagai cara mengubah status sosial mereka. "Sayangnya, mereka masih belum siap bahwa sekolah juga membutuhkan uang. Mereka masih sangat sederhana dalam melakukan aktivitas ekonomi. Saya pernah membeli cempedak di pedagang pendatang seharga Rp 1.500, tetapi penduduk asli masih menjual Rp 500," kata Rachmadi.
Masuknya HPH dan perusahaan perkebunan membuat suku Mentawai tercerabut dari kehidupan yang sangat terkait alam (hutan dan sungai).
Suku Mentawai mengenal sosok yang penting dalam kehidupan sosial mereka, yakni Sikerei, pemimpin upacara adat dan penyembuh orang sakit.
Tarida mencatat, dalam setiap pengobatan (pabetei) dan upacara adat (puliaijat), Sikerei membutuhkan daun dari berbagai jenis tumbuhan. Sekarang, hutan tempat tumbuh daun-daun kehidupan itu terganggu.
Melalui PKMT, pemerintah membangun antara lain permukiman pesisir orang Mentawai di Sagecik, Pulau Sipora, Desa Muara Taikako di Pagai Utara serta Sagulima di Siberut.
Surfaid International sejak 2007 melatih orang Mentawai pesisir agar tahu bahaya gempa dan bagaimana mengantisipasi bahaya tsunami. "Namun, kemampuan kami terbatas melatih dan membuat program Dusun Siaga Bencana di 22 dusun di Kabupaten Kepulauan Mentawai," kata Coordinator Officer Program Siaga Bencana Surfaid international, Sozanolo Duli.
Sungguh ironis, program masa lalu pemerintah merelokasi suku Mentawai dari hulu sungai ke pesisir kini harus dibayar dengan hilangnya ratusan nyawa akibat tsunami. Kini, pemerintah ingin mengembalikan mereka ke hulu sungai, bukit, dan hutan yang sejatinya merupakan Uma bagi orang Mentawai.
Sumber: Kompas edisi Sabtu, 13 November 2010
Baca semua akh...
Merapi Keluarkan Awan Panas Selama 1 Jam 7 Menit
MAGELANG, KOMPAS - Sebanyak 553 pengungsi di Kabupaten Magelang, Sleman, dan Klaten sedang menderita gangguan jiwa. Dari jumlah itu, 493 orang di antaranya dalam kategori sedang dan ringan, dan 60 orang lainnya mengalami gangguan jiwa berat. Mereka frustasi akibat kehilangan harta benda.
"Dua penderita gangguan jiwa berat sudah mencoba bunuh diri," kata Koordinator Penanganan Kesehatan Jiwa Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dr Inu Wicaksana Sp Kj MMR, pada rapat koordinasi penangan bencana Gunung Merapi, Jumat (12/11).
Penderita gangguan jiwa sedang dan ringan menunjukkan gejala depresi, cemas, kacau, berbicara sendiri, dan histeria konversi atau perilaku seperti orang kesurupan. Mereka dari berbagai kelompok umur, termasuk anak-anak.
Dari jumlah itu, 377 warga Kabupaten Sleman, 104 orang asal Magelang, dan 12 warga Klaten. Jumlah itu bakal bertambah karena dari Boyolali belum dilaporkan.
Menurut Inu, gangguan jiwa dipicu kondisi warga pengungsi yang bingung kehilangan keluarga, ternak, rumah, dan tanaman pertaniannya rusak. Mereka pun dicekam kekhawatiran bagaimana melanjutkan hidup dengan kondisi serba kekurangan.
Koordinator Penanganan Kesehatan Jiwa Kabupaten Magelang, dr Sutantri Sp Kj, mengatakan, guncangan jiwa terhebat bakal terjadi saat pengungsi pulang ke rumahnya masing-masing. "Pada saat itu, mereka akan benar-benar pada kondisi nyata dan merasakan betul segala tumpukan masalah yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran mereka saat di pengungsian," ujarnya.
Meletus besar
Setelah empat hari mereda, Gunung Merapi kembali meletus dengan skala besar, Jumat (12/11). Merapi mengeluarkan awan panas letusan berdurasi 1 jam 7 menit mengarah ke barat daya dan selatan.
Letusan dimulai pukul 17.38 yang terpantau dari dua alat seismograf di Stasiun Plawangan dan Museum Gunung Merapi yang menunjukkan overscale (di luar skala normal). Awan panas itu mereda sekitar pukul 18.45, ditandai keluarnya lava pijar dari puncak Merapi.
Karena kondisi gelap dan berkabut, hingga pukul 20.30, belum diketahui radius peluncuran awan panas besar. "Saya berkeyakinan radius tak melebihi 20 kilometer. Kemungkinan lebih jauh dari letusan 26 Oktober karena durasinya lebih lama," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi Surono. Pada letusan 26 Oktober, awan panas terlama berdurasi 33 menit dengan jarak luncur terjauh 8 km.
Mikrofon infrasonik
Kini, tim ahli gunung api dari Jepang membantu PVMBG memantau aktivitas Merapi. Mereka membantu tiga mikrofon infrasonik pendeteksi erupsi secara lebih rinci.
Anggota tim terdiri atas ahli geofisika Masato Iguchi (Kyoto University), ahli geokimia Kenji Nogami (Tokyo Institute of Technology), dan ahli geologi Takayuki Kaneko (University of Tokyo). Sementara ahli kesehatan Saturo Ishii dari National Center for Global Health an Medicine.
"Mikrofon infrasonik itu untuk mendeteksi gelombang udara yang ditimbulkan dari letusan. Akan dipasang di tiga tempat di daerah Prambanan di luar radius bahaya 20 km," kata Iguchi. Data dan analisis aktivitas Merapi diserahkan kepada PVMBG selaku pengambil keputusan.
Jumat kemarin, tim gabungan evakuasi menemukan lagi 9 jenazah, yaitu 7 jenazah ditemukan di Dusun Ngancar, Glagaharjo; dan 2 jenazah di Dusun Bakalan. Wukirsari, Sleman.
Sumber: Kompas edisi Sabtu, 13 November 2010

