Kutemukan ia disana
Dalam cahaya yang temaram
Tatkala pijar lentera kian memudar
Meremang bergoyang bak akan padam
Aku dapatkan ia disana
Saat dingin kian menggigit
Dan tetesan embun bagai membeku
Terhalang kabut yang menebal
Aku rasakan ia disana
Di tengah gurun yang slalu tandus
Yang kaktus pun enggan bersemi
Dibawah terik raja siang
Dialah ibuku tersayang
Yang kasihnya takkan terbilang
Ia penerang tiap langkahku
Memberi hangat dalam jiwaku
Menyejukkan dalam batinku
I love you, Mama,
and I will always loving you...
Senin, 01 November 2010
Jumat, 29 Oktober 2010

Secuil kecil dan mungil
Yang timbul di halusnya wajah
Layaknya bintang yang kerap muncul
Di tengah gelapnya malam
Selalu menonjol
Dan menarik perhatian
Secuil kecil dan mungil
Yang timbul di saat yang tak pernah tepat
Menjadi suatu hiasan yang harusnya tak ada
Saat seribu tatap tertuju padaku
Secuil kecil dan mungil
Yang selalu membuat jengkel dan frustasi
Namun sekarang kusayang padanya
Kar’na berkatnya, kini kubertambah lucu
Ia yang hatinya telah tersakiti
Mencari ia dalam kegelapan
Mencari ia kala jiwanya tengah kesepian
Gulana menyinggahinya dengan terbahak
Dia yang telah tersakiti hatinya
Lara mengusiknya hingga bergoyang
Layaknya angin malam terbangkan sunyi
Meretas dalam galau
Kadang ada air mata dalam derai tawanya
Kadang terselip senyum dalam isak tangisnya
Itulah ia yang telah tersakiti hatinya
Perih…
Ia yang sakit hatinya…
mendayung perlahan biduk kehidupan
mencoba bertahan dengan segenap harapan
Agar tak tersakiti hatinya…
By : Evi, Anggia, Ardhia
Tsm, 01/11/04
Sayang…
Dalam kesendirianku
Kuterlelap dalam buaian rindu
Aku tak tau mengapa rasa ini selalu menghantuiku
Bayangmu selalu menari di fikiranku
Tatkala kuingat senyuman manismu
Andai kamu tahu…
Apa yang aku rasakan
Saat ini, sayang…
Aku ga’ ingin jauh darimu
Kucoba tepis semua Namun…
Semuanya sia-sia
Kau tetap menghantui
Kini…, kucoba akhiri semua kisah
Tentangmu, tentang kita
Tentang cerita indah kita
S’lamanya

Luka yang dalam kukubur di tempat ini
Kumasukkan dalam kotak tua
Lalu kupendam dalam tanah
Yang telah aku gali teramat dalam
Kubenam rapat-rapat
Kuinjak-injak tanahnya biar rata
Supaya tak ada celah tempat luka itu bisa keluar
Kutumpuk dengan jerami-jerami kering,
Sampah kompos, dan akar-akar rumput teki
Biar tumbuh disana menutupinya
Lalu nanti akan kutanam aneka
bunga-bunga wangi berwarna-warni
diatasnya
Sengaja… biar saja…
Biar indah tampaknya
Biar harum baunya
Biar tak terasa lagi perihnya
Seperti luka dulu yang kurasa
Dihatiku…

tabiat yang tak hilang walau disapu derita
mengukir kenangan dalam lamunan
yang tak pernah nyata
akh…
terjerumus lagi fikirku dalam khayal
mencaci setiap geliat yang terlihat
lagi-lagi…
tak pernah nyata kalanya hidupku ini
hanya sebagai bayangan dalam hitam
tak terlihat jua lah…
selalu diriku berenang dalam lautan mimpi
bagai tak ada pelampung, aku terhanyut…
tau-tau aku basah…
aku gelisah…
aku hilang…
apa artinya ini???
akulah sang pengkhayal...

Dia datang perlahan
Dan tanpa aku sadari
Dia hadir diam-diam
Saat aku tengah terlelap
Terbuai dalam indahnya biduk mimpi
Aku terlena…
Dia merasuk tanpa terasa
Menembus kedalam lubang poriku
Hinggap di pembuluh darahku, dan ikut mengalir bersamanya
Ia meresap dalam tiap serat ototku
Memenuhi rongga-rongga dalam tubuhku
Aku tak sadar, ia ada dalam partikel udara di sekitarku
Lalu kuhirup lewat hidungku
Melewati batang tenggorokanku
Bercampur dengan setiap hembus nafasku
Memenuhi rongga paruku
Ia ada dalam diriku
Memenuhi hati dan otakku
Setiap saat aku berkedip, tanpa kusadar ia larut dalam substansi sel-selku
Dan aku mulai merasakannya
Setiap saat kebersamaan
Aku mulai benci…

