Selamat datang! Dhia masih belajar ngeblog, makanya blognya aneh. Harap maklum....!! o_O
Tampilkan postingan dengan label melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melayu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

Belitung Island (Nikah a la Belitung part 2)

Pengantin Beranjuk
Dalam budaya Belitung, terdapat tata cara pernikahan adat yang sakral dan lain dari yang lain. Salah satunya adalah adanya prosesi pengantin beranjuk. Mungkin istilah ini masih asing di telinga kita yang bukan masyarakat Belitung. Istilah pengantin beranjuk diambil dari kata pengantin dan beranjuk. Beranjuk artinya menginap. Berati pengantin beranjuk artinya pengantin menginap. Maksudnya???

Nggak kalah ribetnya sama rangkaian acara pernikahan di rumah pengantin cewek, prosesi pengantin beranjuk yang digelar di rumah pengantin cowok juga ternyata memiliki alur yang cukup panjang dan unik. Kepanitiaan juga cukup njelimet dan mbingungi, hahaha... Cuman bedanya, pengantin beranjuk ini hanya digelar dalam sehari. Saat acara penganten beranjuk sepupuku, aku yang cuma kebagian jadi tukang bantu-bantu masak sekaligus fotografer dadakan pun cukup merasakan kepaknye (capeknya).

Selama kurang lebih seminggu sebelum hari H, semua anggota keluarga sudah dibuat sibuk dengan segala urusan tetek bengek acara. Yang pertama dilakukan adalah pembagian tugas dan kepanitiaan. Untuk menentukan siapa saja yang akan ditunjuk sebagai panitia acara, diadakan rapat panitia yang biasanya dihadiri oleh sesepuh dalam keluarga (kebanyakan udah bapak-bapak), juga orang-orang yang diajukan sebagai calon panitia tersebut. Sedangkan yang ibu-ibu dapat bagian di dapur buat nyiapin hidangan untuk peserta rapat. Susunan panitia yang ditetapkan untuk acara pengantin beranjuk (maupun acara pernikahan) diantaranya adalah :

1. Pengulu gawai (pemimpin hajatan)
2. Tukang ngundang
3. Tukang nerimak tamu (penerima tamu)
4. Tukang tanak nasik (masak nasi)
5. Tukang masak aik (masak air)
6. Tukang ngambik aik (mengambil air)
7. Tukang perikse sajian (memeriksa sajian)
8. Tukang ngelepaskan sajian
9. Tukang nyuci piring
10. Tukang berebut lawang (berebut pintu)
11. Tukang jage jajak (menjaga kue)
12. Tukang ngantar makanan penganten
13. Tukang bearak
14. Tukang ngambelek penganten (menjemput pengantin)
15. Panggong (tukang masak)
16. Mak inang (juru rias pengantin)

Setelah seluruh panitia terbentuk, maka seluruh panitia dan kerabat mulai begawai pada keesokan harinya. Yang pertama dilakukan adalah nyelamatek gawai oleh dukun kampong. Setelah itu, para cowok dari yang tua sampai yang muda bergotong royong untuk menata panggung dan tenda untuk hajatan. Besoknya, kira-kira H-2, dimulai acara ngebumbu/ngeranca bumbu (meracik bumbu sebagai persiapan untuk memasak esok harinya). Lalu H-1'nya mulai bemasak.

Pada hari H, keluarga pengantin cewek, beserta kedua mempelai, datang dengan iring-iringan rebana. Tapi mereka tidak harus beradu pantun dulu seperti pada acara di rumah pengantin cewek. Seluruh rombongan masuk kedalam rumah pengantin cowok, dan kedua mempelai menempati pelaminan. Berhubung aku cuman jadi panitia 'bagian belakang' alias bantu-bantu masak, jadinya aku kurang tau ngapain aja mereka di dalam rumah. Keliatannya sih, mereka cuma bekelakar untuk mengakrabkan kedua keluarga. Lalu (kalo gak salah), ada acara dimana kedua mempelai berkeliling sambil bersalaman dengan seluruh anggota rombongan pengantin cewek. Mungkin sebagai salam perpisahan atau apa... kar'na mulai hari itu, kedua mempelai akan tinggal di rumah keluarga cowok. Itulah kenapa prosesi ini dinamakan pengantin beranjuk, karena pada hari inilah pengantin diantarkan ke rumah pengantin cowok untuk beranjuk (menginap).

Nggak terasa, hari mulai sore... Tamu undangan sudah mulai sepi. Aku yang tadinya cuma kebagian tugas bantu-bantu masak, beralih profesi jadi fotografer dadakan. Jepret sana, jepret sini... Sedih juga, karena fotografer adalah satu-satunya orang yang nggak kebagian difoto. Wekkk... Tapi sekali lagi, aku cukup puas. Ternyata begini yah prosesi pernikahan a la Belitung. Ribet plus unik.

Luph ya, Belitong...

Sumber : PERDA KAB.Belitung No.3 Th.2003
http://portal.mahkamahkonstitusi.go.id

Baca semua akh...

Belitung Island (Legenda : Asal Usul Belitong)

Belitung berasal dari kata Belitong, yang merupakan sejenis siput laut. Konon ceritanya, pulau Belitung yang bentuknya mirip kepala manusia ini merupakan bagian dari semenanjung utara pulau Bali yang terputus, lalu hanyut terbawa arus gelombang menuju ke arah utara. Peristiwa apakah gerangan yang menyebabkan terpisahnya pulau Belitung dari pulau Bali?

Alkisah, di pulau Bali, hidup seorang raja yang adil dan bijaksana. Sang raja sangat disegani dan disayangi oleh rakyatnya. Apapun yang dititahkannya pasti akan dipatuhi oleh rakyatnya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai negeri. Sudah banyak pemuda dan putra mahkota yang datang untuk melamarnya, namun tak satu pun lamaran mereka yang diterimanya.

Pada suatu hari, seorang putra mahkota tampan dari kerajaan tetangga datang melamarnya. Ia adalah putra mahkota dari sahabat karib ayahandanya. Namun sang putri tetap menolak lamaran tersebut. Sang raja dan permaisuri sangat heran melihat sikap putri mereka itu.

"Permaisuriku, ada apa dengan putri kita? Kenapa setiap pelamar yang datang selalu ditolaknya?"

"Entahlah, Kanda! Tapi Dinda merasa putri kita sedang menyembunyikan sesuatu," kata permaisuri.

"Kalau begitu, sebaiknya hal ini kita tanyakan langsung kepadanya," kata sang raja.

"Baiklah, Kanda. Biarlah Dinda yang bicara kepadanya mengenai hal ini," sahut permaisuri.

Pada suatu sore, permaisuri melihat putrinya sedang duduk di kamarnya. Ia pun segera menghampirinya.

"Putriku, mengapa Ananda selalu menolak lamaran yang datang?"

Mendengar pertanyaan ibunya, sang putri hanya terdiam menunduk. Mulanya, ia malu untuk mengungkapkan alasannya menolak semua lamaran tersebut. Namun setelah didesak, dengan berat hati sang putri pun menjawab,

"Maafkan ananda, Ibunda. Bukannya ananda tidak mau menerima lamaran mereka. Tapi ananda merasa malu dengan penyakit yang sedang ananda derita ini."

"Penyakit apakah yang sedang Ananda derita? Kenapa Ananda tidak pernah bercerita kepada Ibunda?" sang permaisuri bertanya lagi. Karena kaget putrinya sakit, sang permaisuri langsung memeluk putrinya itu.

Sambil menangis di pelukan ibundanya, sang putri bercerita tentang penyakitnya.

"Ananda sedang mengidap penyakit menular, Ibunda," ungkap sang putri.

Mendengar hal itu, permaisuri pun mengerti dan merasa sedih atas nasib yang menimpa putrinya. Ia pun segera menyampaikan berita buruk ini kepada baginda raja. Betapa terkejutnya sang raja mendengar berita itu. Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya baginda raja dan permaisuri memutuskan untuk mengadakan sayembara. Barangsiapa mampu menyembuhkan penyakit sang putri, ia akan dinikahkan dengan sang putri. Sang raja pun segera memerintahkan kepada hulubalang istana agar menyebarkan pengumuman ke berbagai negeri.

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para ahli pengobatan dari berbagai penjuru negeri untuk mengikuti sayembara tersebut. Satu per satu para ahli tersebut dipanggil untuk mengobati penyakit sang putri. Meskipun para ahli tersebut telah mengeluarkan kemampuan dan kesaktian masing-masing, namun tak seorang pun yang berhasil menyembuhkan penyakit sang putri. Putuslah harapan sang raja dan permaisuri. Oleh karena khawatir penyakit sang putri akan menular kepada orang-orang di sekitarnya, akhirnya sang raja pun memutuskan untuk mengasingkan putrinya ke tengah hutan di semenanjung sebelah utara pulau Bali.

Keesokan harinya, setelah segala sesuatunya disiapkan, sang putri pun diantar ke tempat pengasingan. Ia diantar oleh sang raja dan permaisuri beserta para pembantu istana. Sesampainya disana, sang putri dibuatkan sebuah pondokan untuk tempat tinggalnya. Setelah itu, sang putri pun ditinggal bersama anjing peliharaannya yang bernama Tumang. Sebelum kembali ke istana, permaisuri berusaha membujuk dan menenangkan hati putrinya.

"Maafkan kami, Putriku. Ayahanda dan Ibunda terpaksa meninggalkan Ananda sendirian disini hingga penyakit Ananda sembuh. Ananda tidak usah khawatir, sesekali waktu Ibunda akan mengutus beberapa orang pengawal istana untuk mengantarkan makanan dan segala keperluan Ananda selama tinggal disini," ujar permaisuri kepada putrinya.

"Baiklah Ibundan. Demikeselamatan orang lain, Ananda rela tinggal disini. lagi pula, Ananda sudah ditemani oleh si Tumang," kata sang putri.

Setelah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk perlindungan sang putri, dengan perasaan sedih sang raja dan permaisuri beserta rombongannya pergi meninggalkan tempat tersebut.

Selama berada di dalam hutan itu, sang putri selalu ditemani oleh anjing kesayangannya kemana pun ia pergi. Hingga akhirnya sang putri jatuh cinta pada anjingnya itu dan hamil. Tapi kemudian penyakit sang putri mulai sembuh.

Ketika pada suatu hari datang seorang utusan raja menjenguk sang putri, ia terkejut melihat sang putri hamil. Maka sang putri pun menceritakan hal yang sebenarnya bahwa penyakitnya sudah mulai sembuh, dan ia sedang mengandung anak si Tumang.

Maka sang utusan pun kembali ke kerajaan dan menceritakan kejadian yang menimpa sang putri kepada raja dan permaisuri. Awalnya sang raja senang karena penyakit putrinya telah sembuh, tapi kemudia ia marah setelah mendengar bahwa putrinya itu mengandung anak anjing. Sang raja benar-benar murka karena sang putri telah melakukan perbuatan yang terlarang dan mencemarkan nama baikk keluarga istana.

Pada suatu malam, sang raja mensucikan diri dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menghukum putrinya.

"Ya, Tuhan, berikanlah hukuman kepada putriku yang telah melanggar perintahMu. Hancurkan tempat dimana putriku telah melakukan perbuatan tercela."

Doa sang raja pun dikabulkan. Beberapa hari kemudian, hujan deras disertai angin yang sangat kencang datang menerjang. Tidak berapa lama kemudian, bumi pun bergetar sehingga semenanjung pulau Bali tempat sang putri diasingkan itu terputus dan hanyut menuju ke arah utara.

Nun jauh disana, di tengah laut lepas sebelah timur pulau Sumatra, dua orang nelayan yang bernama Datuk Malim Angin dan Datuk Langgar Tuban sedang memancing ikan dengan menggunakan perahu sampan. Saat sedang asik memancing, tiba-tiba mereka dikejutkan sebuah pemandangan yang aneh. Datuk Malim Angin melihat sebuah pulau hanyut dan melintas tidak jauh dari tempat mereka memancing. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera mengayuh sampan dan mengejar pulau itu. Ketika berhasil mencapai salah satu bagian pulau tersebut, Datuk Malim Angin pun segera mengambil sebuah tali sauh dan mengikatkannya pada sebatang pohon yang ada di kaki sebuah gunung, kemudian melemparkan jangkarnya yang telah diikatkan pada ujung tali itu ke dasar laut. Beberapa saat kemudian, pulau itu pun berhenti dan tidak hanyut lagi.

Menurut kepercayaan masyarakan setempat, gunung tempat Datuk Malim Angin menambatkan tali sauhnya disebut Gunung Baginde yang kini terletak di kampung Padang Kandis, Membalong, Belitung. Sementara pulau yang hanyut itu diberi nama Belitong yang berasal dari kata Bali Terpotong. Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi Belitung.

Cerita ini memang hanya fiktif belaka. Sebagian besar kisahnya tidak dapat diterima oleh akal sehat. Namanya juga legenda, nggak harus dipercaya, tapi legenda yang kaya akan nilai moral ini patut kita jadikan pembelajaran. Banyak pesan moral yang dapat kita ambil hikmahnya disana. Seperti dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu :

ingat hidup banyak godaan
di kiri iblis di kanan setan
nafsu menanti di dalam badan
selera menunggu di angan-angan
bila lengah hidup mengenyam
bila lalai rusaklah iman


sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=120&l=asal-usul-pulau-belitung

Baca semua akh...

Minggu, 24 Oktober 2010

Belitung Island (Nikah a la Belitung part 1)

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku budaya dan etnis. Hal itulah yang membuat Indonesia menjadi negara yang kaya. Kaya akan keragaman yang menyatukan seluruh bangsa. Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyang kebanggaan rakyat Indonesia.Meskipun berbeda-beda, tapi tetap satu jua, Indonesia.

Memang pantas kalo semua orang bilang "I Love Indonesia". Gimana nggak? Keragaman bangsa Indonesia yang tidak ternilai itu menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang kaya, bahkan terkenal di mata dunia. Terdiri dari beribu pulau, menghimpun jutaan rakyatnya yang berasal dari berbagai golongan etnis, agama, bahasa, adat, suku dan budaya, dari mulai yang kulit putih, hitam, dan berwarna, yang tinggi dan pendek, yang kurus dan gemuk, yang cantik, ganteng, jelek, atau biasa-biasa aja,.... hahaha mulai nggak nyambung...!

Tapi bener deh, semua itu bikin bangga. Buat aku, keragaman itu semakin terasa waktu aku memulai domisili aku di Belitung. Pulau kecil ini mampu membuat orang takjub. Budayanya yang kental menyirikan 'Indonesia bangetttt'. Hahaha lebay...

Yang paling terasa banget adalah sekitar 1 bulan yang lalu waktu acara mantenan sepupuku. Sampai sekarang masih terasa capeknya. Tapi beruntung, akhirnya bisa tau adat daerah kelahiran sendiri. Jadi kali ini aku akan membahas tentang pernikahan dalam adat Belitung biar nggak asing dengan salah satu budaya Indonesia itu.

Jauh-jauh hari sebelum berlangsungnya acara pernikahan, ada acara mutus paham, yang kadang juga disamakan dengan acara lamaran. Saat mutus paham ini, wakil keluarga calon pengantin cewek (kalau ngikutin tata cara meminang yang benar sih, harusnya yang cowok), datang ke rumah calon pengantin cowok. Pada hari itu, selain acara meminang, dilakukan juga perundingan antara dua keluarga mengenai acara pernikahan yang akan digelar. Pihak pelamar biasanya menyerahkan sejumlah barang kepada yang dilamar, sebagai simbol pertunangan. Selanjutnya ditentukan kapan pernikahan akan dilangsungkan. Setelah keputusan tentang hari dan tanggal ditentukan, maka pada hari yang dimaksud, dilangsungkanlah prosesi pernikahan tersebut.

Acara pernikahan a la Belitung biasanya berlangsung lebih dari 1 hari. Acara pertama dari rangkaian pernikahan itu adalah acara ketuk pintu. Pada hari pertama ini, calon pengantin cowok datang ke rumah calon pengantin cewek, bersama-sama dengan keluarganya (setelah sebelumnya pengantin laki-laki dijemput utusan dari pihak mempelai perempuan yang diarak dengan kesenian hadra). Tapi mereka tidak bisa langsung masuk kedalam rumah pengantin cewek, karena mereka dihadang oleh wakil keluarga calon pengantin cewek (hanya saja, biasanya rombonan pengiring dipersilahkan masuk terlebih dahulu). Ada tiga lawang (pintu) yang harus dilewati. Prosesi ini disebut berebut lawang. Pada lawang pertama, terjadi acara berbalas pantun antara wakil keluarga cowok dengan wakil keluarga cewek. Wakil dari rombongan calon pengantin cowok membacakan sebaris pantun, kemudian dibalas oleh pihak tuan rumah yang diwakili oleh tukang tanak (orang yang memasak nasi). Balas pantun ini terjadi beberapa kali hingga maksud kedatangan rombongan pengantin cowok tersampaikan. Ini adalah sebagai simbol bahwa cowok harus melewati tantangan perkawinan untuk menafkahkan keluarga.

Setelah itu berlanjut ke lawang yang kedua. Disini terjadi juga balas pantun. Tapi kali ini tuan rumah diwakili oleh pengulu gawai (pimpinan hajatan). Isi balas pantunnya sama juga, yaitu pengulu gawai menanyakan maksud kedatangan rombongan tamu. Biasanya acara balas pantun ini berlangsung seru dan lucu, hingga yang mendengarkan ramai tertawa terbahak-bahak. Tantangan di lawang yang kedua ini maksudnya agar pengantin cowok nantinya dapat melewati bahtera rumah dan memimpin biduk perkawinan.

Selanjutnya lawang yang ketiga. Disini yang berperan adalah mak inang (juru rias pengantin). Mak inang menanyakan sire atau bawaan rombongan calon pengantin cowok. Pemberian sire kepada keluarga calon pengantin cewek ini dimaksudkan untuk mengikat tali persaudaraan antara dua keluarga. Hantaran pernikahan itu terdiri dari seperangkat tempat sirih lengkap, yang didalamnya terdapat 17 macam barang yang melambangkan jumlah rakaat shalat dalam 1 hari. Selain itu ada juga sejumlah uang yang biasanya kelipatan lima, yang melambangkan shalat wajib 5 waktu. Setelah itu, rombongan tamu baru boleh masuk, dan calon manten cowok dipertemukan dengan calon manten ceweknya. Lalu digelarlah prosesi akad nikah. Sebagai catatan, (katanya) biasanya pada hari pertama ini, orang tua dari calon pengantin cowok tidak ikut hadir. Nggak tau maksudnya kenapa harus begitu... Tantangan yang ketiga ini dimaksudkan agar mempelai cowok selain dapat menafkahkan dan memimpin keluarga juga harus mampu menghiasi rumah tangga dengan nuansa kegembiraan dan keindahan.

Mengapa setiap melewati lawang-lawang tersebut selalu disemarakkan dengan budaya berbalas pantun, memberi simbol tawar menawar, begitulah perkawinan hendaknya mampu mengatasi aral melintang mau menjawab tantangan.

Hari kedua dari rangkaian acara pernikahan ini adalah saat hari bejamu. (Tapi berhubung akad nikah Eko dilaksanakan pada hari Jumat, maka hari bejamunya baru digelar pada hari Minggunya). Pada hari ini, kedua keluarga beserta orang tua pengantin dipertemukan. Tujuannya adalah untuk mempersatukan kedua keluarga tersebut. Mak inang sangat berperan disini. Dia memandu serangkaian adat pernikahan. Selain itu, keluarga manten cowok membawa serta sejumlah hantaran untuk keluarga manten cewek. Kalau hantaran si Eko sih banyak, ada pakaian untuk pengantin ceweknya, alat kecantikan, selimut, dan lain-lain (aku lupa, hehehe).

Nah, berdasarkan adat Belitung asli, masih ada 1 hari lagi dalam rangkaian pernikahan ini. Pada hari ini, kedua pengantin dimandikan dengan air kembang 7 rupa, namanya mandik besimbor. Setelah itu, ada juga acara injak telur. Ada yang menarik pada acara hari ketiga ini, yaitu saat pengantin berlari menuju pelaminan. Konon katanya, barangsiapa yang mencapi pelaminan lebih dulu, dialah yang akan mengatur roda kehidupan keluarganya kelak. (Tapi berhubung besoknya hari Senin, dan kedua pengantin tidak memperoleh cuti nikah yang panjang dari bosnya, makanya Eko dan bini sepakat untuk tidak menggelar acara hari ketiga ini ^_^')

Tadinya aku kira rangkaian pernikahan a la Belitung itu sudah selesai sampai disitu. Tapi ternyata aku salah. Masih ada satu acara lagi yang namanya pengantin beranjuk atau pengantin menginap. Tapi bahasan tentang pengantin beranjuk ini akan diulas dalam postingan yang selanjutnya. Ditunggu aja ya...

Baca semua akh...