Selamat datang! Dhia masih belajar ngeblog, makanya blognya aneh. Harap maklum....!! o_O

Rabu, 27 Oktober 2010

Belitung Island (Legenda : Asal Usul Belitong)

Belitung berasal dari kata Belitong, yang merupakan sejenis siput laut. Konon ceritanya, pulau Belitung yang bentuknya mirip kepala manusia ini merupakan bagian dari semenanjung utara pulau Bali yang terputus, lalu hanyut terbawa arus gelombang menuju ke arah utara. Peristiwa apakah gerangan yang menyebabkan terpisahnya pulau Belitung dari pulau Bali?

Alkisah, di pulau Bali, hidup seorang raja yang adil dan bijaksana. Sang raja sangat disegani dan disayangi oleh rakyatnya. Apapun yang dititahkannya pasti akan dipatuhi oleh rakyatnya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai negeri. Sudah banyak pemuda dan putra mahkota yang datang untuk melamarnya, namun tak satu pun lamaran mereka yang diterimanya.

Pada suatu hari, seorang putra mahkota tampan dari kerajaan tetangga datang melamarnya. Ia adalah putra mahkota dari sahabat karib ayahandanya. Namun sang putri tetap menolak lamaran tersebut. Sang raja dan permaisuri sangat heran melihat sikap putri mereka itu.

"Permaisuriku, ada apa dengan putri kita? Kenapa setiap pelamar yang datang selalu ditolaknya?"

"Entahlah, Kanda! Tapi Dinda merasa putri kita sedang menyembunyikan sesuatu," kata permaisuri.

"Kalau begitu, sebaiknya hal ini kita tanyakan langsung kepadanya," kata sang raja.

"Baiklah, Kanda. Biarlah Dinda yang bicara kepadanya mengenai hal ini," sahut permaisuri.

Pada suatu sore, permaisuri melihat putrinya sedang duduk di kamarnya. Ia pun segera menghampirinya.

"Putriku, mengapa Ananda selalu menolak lamaran yang datang?"

Mendengar pertanyaan ibunya, sang putri hanya terdiam menunduk. Mulanya, ia malu untuk mengungkapkan alasannya menolak semua lamaran tersebut. Namun setelah didesak, dengan berat hati sang putri pun menjawab,

"Maafkan ananda, Ibunda. Bukannya ananda tidak mau menerima lamaran mereka. Tapi ananda merasa malu dengan penyakit yang sedang ananda derita ini."

"Penyakit apakah yang sedang Ananda derita? Kenapa Ananda tidak pernah bercerita kepada Ibunda?" sang permaisuri bertanya lagi. Karena kaget putrinya sakit, sang permaisuri langsung memeluk putrinya itu.

Sambil menangis di pelukan ibundanya, sang putri bercerita tentang penyakitnya.

"Ananda sedang mengidap penyakit menular, Ibunda," ungkap sang putri.

Mendengar hal itu, permaisuri pun mengerti dan merasa sedih atas nasib yang menimpa putrinya. Ia pun segera menyampaikan berita buruk ini kepada baginda raja. Betapa terkejutnya sang raja mendengar berita itu. Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya baginda raja dan permaisuri memutuskan untuk mengadakan sayembara. Barangsiapa mampu menyembuhkan penyakit sang putri, ia akan dinikahkan dengan sang putri. Sang raja pun segera memerintahkan kepada hulubalang istana agar menyebarkan pengumuman ke berbagai negeri.

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para ahli pengobatan dari berbagai penjuru negeri untuk mengikuti sayembara tersebut. Satu per satu para ahli tersebut dipanggil untuk mengobati penyakit sang putri. Meskipun para ahli tersebut telah mengeluarkan kemampuan dan kesaktian masing-masing, namun tak seorang pun yang berhasil menyembuhkan penyakit sang putri. Putuslah harapan sang raja dan permaisuri. Oleh karena khawatir penyakit sang putri akan menular kepada orang-orang di sekitarnya, akhirnya sang raja pun memutuskan untuk mengasingkan putrinya ke tengah hutan di semenanjung sebelah utara pulau Bali.

Keesokan harinya, setelah segala sesuatunya disiapkan, sang putri pun diantar ke tempat pengasingan. Ia diantar oleh sang raja dan permaisuri beserta para pembantu istana. Sesampainya disana, sang putri dibuatkan sebuah pondokan untuk tempat tinggalnya. Setelah itu, sang putri pun ditinggal bersama anjing peliharaannya yang bernama Tumang. Sebelum kembali ke istana, permaisuri berusaha membujuk dan menenangkan hati putrinya.

"Maafkan kami, Putriku. Ayahanda dan Ibunda terpaksa meninggalkan Ananda sendirian disini hingga penyakit Ananda sembuh. Ananda tidak usah khawatir, sesekali waktu Ibunda akan mengutus beberapa orang pengawal istana untuk mengantarkan makanan dan segala keperluan Ananda selama tinggal disini," ujar permaisuri kepada putrinya.

"Baiklah Ibundan. Demikeselamatan orang lain, Ananda rela tinggal disini. lagi pula, Ananda sudah ditemani oleh si Tumang," kata sang putri.

Setelah memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk perlindungan sang putri, dengan perasaan sedih sang raja dan permaisuri beserta rombongannya pergi meninggalkan tempat tersebut.

Selama berada di dalam hutan itu, sang putri selalu ditemani oleh anjing kesayangannya kemana pun ia pergi. Hingga akhirnya sang putri jatuh cinta pada anjingnya itu dan hamil. Tapi kemudian penyakit sang putri mulai sembuh.

Ketika pada suatu hari datang seorang utusan raja menjenguk sang putri, ia terkejut melihat sang putri hamil. Maka sang putri pun menceritakan hal yang sebenarnya bahwa penyakitnya sudah mulai sembuh, dan ia sedang mengandung anak si Tumang.

Maka sang utusan pun kembali ke kerajaan dan menceritakan kejadian yang menimpa sang putri kepada raja dan permaisuri. Awalnya sang raja senang karena penyakit putrinya telah sembuh, tapi kemudia ia marah setelah mendengar bahwa putrinya itu mengandung anak anjing. Sang raja benar-benar murka karena sang putri telah melakukan perbuatan yang terlarang dan mencemarkan nama baikk keluarga istana.

Pada suatu malam, sang raja mensucikan diri dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menghukum putrinya.

"Ya, Tuhan, berikanlah hukuman kepada putriku yang telah melanggar perintahMu. Hancurkan tempat dimana putriku telah melakukan perbuatan tercela."

Doa sang raja pun dikabulkan. Beberapa hari kemudian, hujan deras disertai angin yang sangat kencang datang menerjang. Tidak berapa lama kemudian, bumi pun bergetar sehingga semenanjung pulau Bali tempat sang putri diasingkan itu terputus dan hanyut menuju ke arah utara.

Nun jauh disana, di tengah laut lepas sebelah timur pulau Sumatra, dua orang nelayan yang bernama Datuk Malim Angin dan Datuk Langgar Tuban sedang memancing ikan dengan menggunakan perahu sampan. Saat sedang asik memancing, tiba-tiba mereka dikejutkan sebuah pemandangan yang aneh. Datuk Malim Angin melihat sebuah pulau hanyut dan melintas tidak jauh dari tempat mereka memancing. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera mengayuh sampan dan mengejar pulau itu. Ketika berhasil mencapai salah satu bagian pulau tersebut, Datuk Malim Angin pun segera mengambil sebuah tali sauh dan mengikatkannya pada sebatang pohon yang ada di kaki sebuah gunung, kemudian melemparkan jangkarnya yang telah diikatkan pada ujung tali itu ke dasar laut. Beberapa saat kemudian, pulau itu pun berhenti dan tidak hanyut lagi.

Menurut kepercayaan masyarakan setempat, gunung tempat Datuk Malim Angin menambatkan tali sauhnya disebut Gunung Baginde yang kini terletak di kampung Padang Kandis, Membalong, Belitung. Sementara pulau yang hanyut itu diberi nama Belitong yang berasal dari kata Bali Terpotong. Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi Belitung.

Cerita ini memang hanya fiktif belaka. Sebagian besar kisahnya tidak dapat diterima oleh akal sehat. Namanya juga legenda, nggak harus dipercaya, tapi legenda yang kaya akan nilai moral ini patut kita jadikan pembelajaran. Banyak pesan moral yang dapat kita ambil hikmahnya disana. Seperti dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu :

ingat hidup banyak godaan
di kiri iblis di kanan setan
nafsu menanti di dalam badan
selera menunggu di angan-angan
bila lengah hidup mengenyam
bila lalai rusaklah iman


sumber : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=120&l=asal-usul-pulau-belitung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar