Selamat datang! Dhia masih belajar ngeblog, makanya blognya aneh. Harap maklum....!! o_O

Minggu, 24 Oktober 2010

Belitung Island (Nikah a la Belitung part 1)

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku budaya dan etnis. Hal itulah yang membuat Indonesia menjadi negara yang kaya. Kaya akan keragaman yang menyatukan seluruh bangsa. Bhineka Tunggal Ika, itulah semboyang kebanggaan rakyat Indonesia.Meskipun berbeda-beda, tapi tetap satu jua, Indonesia.

Memang pantas kalo semua orang bilang "I Love Indonesia". Gimana nggak? Keragaman bangsa Indonesia yang tidak ternilai itu menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang kaya, bahkan terkenal di mata dunia. Terdiri dari beribu pulau, menghimpun jutaan rakyatnya yang berasal dari berbagai golongan etnis, agama, bahasa, adat, suku dan budaya, dari mulai yang kulit putih, hitam, dan berwarna, yang tinggi dan pendek, yang kurus dan gemuk, yang cantik, ganteng, jelek, atau biasa-biasa aja,.... hahaha mulai nggak nyambung...!

Tapi bener deh, semua itu bikin bangga. Buat aku, keragaman itu semakin terasa waktu aku memulai domisili aku di Belitung. Pulau kecil ini mampu membuat orang takjub. Budayanya yang kental menyirikan 'Indonesia bangetttt'. Hahaha lebay...

Yang paling terasa banget adalah sekitar 1 bulan yang lalu waktu acara mantenan sepupuku. Sampai sekarang masih terasa capeknya. Tapi beruntung, akhirnya bisa tau adat daerah kelahiran sendiri. Jadi kali ini aku akan membahas tentang pernikahan dalam adat Belitung biar nggak asing dengan salah satu budaya Indonesia itu.

Jauh-jauh hari sebelum berlangsungnya acara pernikahan, ada acara mutus paham, yang kadang juga disamakan dengan acara lamaran. Saat mutus paham ini, wakil keluarga calon pengantin cewek (kalau ngikutin tata cara meminang yang benar sih, harusnya yang cowok), datang ke rumah calon pengantin cowok. Pada hari itu, selain acara meminang, dilakukan juga perundingan antara dua keluarga mengenai acara pernikahan yang akan digelar. Pihak pelamar biasanya menyerahkan sejumlah barang kepada yang dilamar, sebagai simbol pertunangan. Selanjutnya ditentukan kapan pernikahan akan dilangsungkan. Setelah keputusan tentang hari dan tanggal ditentukan, maka pada hari yang dimaksud, dilangsungkanlah prosesi pernikahan tersebut.

Acara pernikahan a la Belitung biasanya berlangsung lebih dari 1 hari. Acara pertama dari rangkaian pernikahan itu adalah acara ketuk pintu. Pada hari pertama ini, calon pengantin cowok datang ke rumah calon pengantin cewek, bersama-sama dengan keluarganya (setelah sebelumnya pengantin laki-laki dijemput utusan dari pihak mempelai perempuan yang diarak dengan kesenian hadra). Tapi mereka tidak bisa langsung masuk kedalam rumah pengantin cewek, karena mereka dihadang oleh wakil keluarga calon pengantin cewek (hanya saja, biasanya rombonan pengiring dipersilahkan masuk terlebih dahulu). Ada tiga lawang (pintu) yang harus dilewati. Prosesi ini disebut berebut lawang. Pada lawang pertama, terjadi acara berbalas pantun antara wakil keluarga cowok dengan wakil keluarga cewek. Wakil dari rombongan calon pengantin cowok membacakan sebaris pantun, kemudian dibalas oleh pihak tuan rumah yang diwakili oleh tukang tanak (orang yang memasak nasi). Balas pantun ini terjadi beberapa kali hingga maksud kedatangan rombongan pengantin cowok tersampaikan. Ini adalah sebagai simbol bahwa cowok harus melewati tantangan perkawinan untuk menafkahkan keluarga.

Setelah itu berlanjut ke lawang yang kedua. Disini terjadi juga balas pantun. Tapi kali ini tuan rumah diwakili oleh pengulu gawai (pimpinan hajatan). Isi balas pantunnya sama juga, yaitu pengulu gawai menanyakan maksud kedatangan rombongan tamu. Biasanya acara balas pantun ini berlangsung seru dan lucu, hingga yang mendengarkan ramai tertawa terbahak-bahak. Tantangan di lawang yang kedua ini maksudnya agar pengantin cowok nantinya dapat melewati bahtera rumah dan memimpin biduk perkawinan.

Selanjutnya lawang yang ketiga. Disini yang berperan adalah mak inang (juru rias pengantin). Mak inang menanyakan sire atau bawaan rombongan calon pengantin cowok. Pemberian sire kepada keluarga calon pengantin cewek ini dimaksudkan untuk mengikat tali persaudaraan antara dua keluarga. Hantaran pernikahan itu terdiri dari seperangkat tempat sirih lengkap, yang didalamnya terdapat 17 macam barang yang melambangkan jumlah rakaat shalat dalam 1 hari. Selain itu ada juga sejumlah uang yang biasanya kelipatan lima, yang melambangkan shalat wajib 5 waktu. Setelah itu, rombongan tamu baru boleh masuk, dan calon manten cowok dipertemukan dengan calon manten ceweknya. Lalu digelarlah prosesi akad nikah. Sebagai catatan, (katanya) biasanya pada hari pertama ini, orang tua dari calon pengantin cowok tidak ikut hadir. Nggak tau maksudnya kenapa harus begitu... Tantangan yang ketiga ini dimaksudkan agar mempelai cowok selain dapat menafkahkan dan memimpin keluarga juga harus mampu menghiasi rumah tangga dengan nuansa kegembiraan dan keindahan.

Mengapa setiap melewati lawang-lawang tersebut selalu disemarakkan dengan budaya berbalas pantun, memberi simbol tawar menawar, begitulah perkawinan hendaknya mampu mengatasi aral melintang mau menjawab tantangan.

Hari kedua dari rangkaian acara pernikahan ini adalah saat hari bejamu. (Tapi berhubung akad nikah Eko dilaksanakan pada hari Jumat, maka hari bejamunya baru digelar pada hari Minggunya). Pada hari ini, kedua keluarga beserta orang tua pengantin dipertemukan. Tujuannya adalah untuk mempersatukan kedua keluarga tersebut. Mak inang sangat berperan disini. Dia memandu serangkaian adat pernikahan. Selain itu, keluarga manten cowok membawa serta sejumlah hantaran untuk keluarga manten cewek. Kalau hantaran si Eko sih banyak, ada pakaian untuk pengantin ceweknya, alat kecantikan, selimut, dan lain-lain (aku lupa, hehehe).

Nah, berdasarkan adat Belitung asli, masih ada 1 hari lagi dalam rangkaian pernikahan ini. Pada hari ini, kedua pengantin dimandikan dengan air kembang 7 rupa, namanya mandik besimbor. Setelah itu, ada juga acara injak telur. Ada yang menarik pada acara hari ketiga ini, yaitu saat pengantin berlari menuju pelaminan. Konon katanya, barangsiapa yang mencapi pelaminan lebih dulu, dialah yang akan mengatur roda kehidupan keluarganya kelak. (Tapi berhubung besoknya hari Senin, dan kedua pengantin tidak memperoleh cuti nikah yang panjang dari bosnya, makanya Eko dan bini sepakat untuk tidak menggelar acara hari ketiga ini ^_^')

Tadinya aku kira rangkaian pernikahan a la Belitung itu sudah selesai sampai disitu. Tapi ternyata aku salah. Masih ada satu acara lagi yang namanya pengantin beranjuk atau pengantin menginap. Tapi bahasan tentang pengantin beranjuk ini akan diulas dalam postingan yang selanjutnya. Ditunggu aja ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar