Selamat datang! Dhia masih belajar ngeblog, makanya blognya aneh. Harap maklum....!! o_O

Jumat, 12 November 2010

2 Pengungsi Coba Bunuh Diri

Merapi Keluarkan Awan Panas Selama 1 Jam 7 Menit

MAGELANG, KOMPAS - Sebanyak 553 pengungsi di Kabupaten Magelang, Sleman, dan Klaten sedang menderita gangguan jiwa. Dari jumlah itu, 493 orang di antaranya dalam kategori sedang dan ringan, dan 60 orang lainnya mengalami gangguan jiwa berat. Mereka frustasi akibat kehilangan harta benda.

"Dua penderita gangguan jiwa berat sudah mencoba bunuh diri," kata Koordinator Penanganan Kesehatan Jiwa Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dr Inu Wicaksana Sp Kj MMR, pada rapat koordinasi penangan bencana Gunung Merapi, Jumat (12/11).

Penderita gangguan jiwa sedang dan ringan menunjukkan gejala depresi, cemas, kacau, berbicara sendiri, dan histeria konversi atau perilaku seperti orang kesurupan. Mereka dari berbagai kelompok umur, termasuk anak-anak.

Dari jumlah itu, 377 warga Kabupaten Sleman, 104 orang asal Magelang, dan 12 warga Klaten. Jumlah itu bakal bertambah karena dari Boyolali belum dilaporkan.

Menurut Inu, gangguan jiwa dipicu kondisi warga pengungsi yang bingung kehilangan keluarga, ternak, rumah, dan tanaman pertaniannya rusak. Mereka pun dicekam kekhawatiran bagaimana melanjutkan hidup dengan kondisi serba kekurangan.

Koordinator Penanganan Kesehatan Jiwa Kabupaten Magelang, dr Sutantri Sp Kj, mengatakan, guncangan jiwa terhebat bakal terjadi saat pengungsi pulang ke rumahnya masing-masing. "Pada saat itu, mereka akan benar-benar pada kondisi nyata dan merasakan betul segala tumpukan masalah yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran mereka saat di pengungsian," ujarnya.

Meletus besar

Setelah empat hari mereda, Gunung Merapi kembali meletus dengan skala besar, Jumat (12/11). Merapi mengeluarkan awan panas letusan berdurasi 1 jam 7 menit mengarah ke barat daya dan selatan.

Letusan dimulai pukul 17.38 yang terpantau dari dua alat seismograf di Stasiun Plawangan dan Museum Gunung Merapi yang menunjukkan overscale (di luar skala normal). Awan panas itu mereda sekitar pukul 18.45, ditandai keluarnya lava pijar dari puncak Merapi.

Karena kondisi gelap dan berkabut, hingga pukul 20.30, belum diketahui radius peluncuran awan panas besar. "Saya berkeyakinan radius tak melebihi 20 kilometer. Kemungkinan lebih jauh dari letusan 26 Oktober karena durasinya lebih lama," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi Surono. Pada letusan 26 Oktober, awan panas terlama berdurasi 33 menit dengan jarak luncur terjauh 8 km.

Mikrofon infrasonik

Kini, tim ahli gunung api dari Jepang membantu PVMBG memantau aktivitas Merapi. Mereka membantu tiga mikrofon infrasonik pendeteksi erupsi secara lebih rinci.

Anggota tim terdiri atas ahli geofisika Masato Iguchi (Kyoto University), ahli geokimia Kenji Nogami (Tokyo Institute of Technology), dan ahli geologi Takayuki Kaneko (University of Tokyo). Sementara ahli kesehatan Saturo Ishii dari National Center for Global Health an Medicine.

"Mikrofon infrasonik itu untuk mendeteksi gelombang udara yang ditimbulkan dari letusan. Akan dipasang di tiga tempat di daerah Prambanan di luar radius bahaya 20 km," kata Iguchi. Data dan analisis aktivitas Merapi diserahkan kepada PVMBG selaku pengambil keputusan.

Jumat kemarin, tim gabungan evakuasi menemukan lagi 9 jenazah, yaitu 7 jenazah ditemukan di Dusun Ngancar, Glagaharjo; dan 2 jenazah di Dusun Bakalan. Wukirsari, Sleman.

Sumber: Kompas edisi Sabtu, 13 November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar