Selamat datang! Dhia masih belajar ngeblog, makanya blognya aneh. Harap maklum....!! o_O

Rabu, 10 November 2010

Pidato Pulang Kampung Obama Dipuji

"Bhinneka Tunggal Ika, contoh yang Indonesia berikan kepada dunia."

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Barack Obama kemarin kembali menunjukkan kelasnya sebagai orator ulung. Kuliah umum tentang pembangunan, demokrasi, dan kehidupan beragama yang ia bawakan memukau 6.000 orang yang memadati Balairung Universitas Indonesia, Depok. "Pulang kampung, nih," katanya, disambut aplaus meriah dan gelak tawa.

Sejurus kemudian, seraya tersenyum, Obama, yang mengenakan setelan jas lengkap, mengatakan, "Indonesia adalah bagian dari diri saya."

Alhasil, tak cuma mahasiswa, akademisi, teman-teman sekolah dasarnya, dan guru Obama di Menteng yang tersentuh oleh pidato Obama yang amat personal itu, tapi juga para politikus dan tokoh agama. Bekas presiden B.J. Habibie bahkan merekam pidato bekas Senator Partai Demokrat dari Illinois, Chicago, itu. "Ada 6.000 undangan yang kami sebar," ujar Wakil Atase Pers Kedutaan Amerika Corina Sanders.

Dalam kuliah umum selama 30 menit itu Obama menegaskan, dia datang sebagai teman dan juga presiden yang mencari kemitraan yang mendalam dan kekal di antara kedua negara. "Amerika Serikat dan Indonesia terikat bersama oleh kepentingan umum dan nilai-nilai bersama," ujarnya.

Obama pun memuji Indonesia sebagai negeri yang terdiri atas ribuan pulau dan beragam bahasa. "Ini membuat saya menghargai kemanusiaan," katanya. Ia menyebut ayah tirinya, yang seorang muslim, sebagai cerminan multikultural keluarganya yang lahir dari nilai saling menghargai sesama manusia. "Bhinneka Tunggal Ika, contoh yang bisa Indonesia berikan kepada dunia," ucapnya, yang kembali disambut tepukan gemuruh.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, kata Obama, Indonesia berhasil menyatukan keberagaman. "Saya melihat masjid dan gereja berdampingan. Ini membuktikan agama di Indonesia bisa hidup berdampingan," kata Obama, yang sebelum ke UI berkunjung ke masjid Istiqlal beserta istrinya, Michelle, 47 tahun.

Komentar pun berseliweran di jagat maya. Isinya, memuji pidato Obama. Di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, orang-orang menyebut isi "ceramah" Obama soal keberagaman dan humanisme sebagai luar biasa. Semisal, "Mestinya yang ngomong begini bukan Obama", atau "Kapan kiranya Indonesia punya pidato yang layak disimpan dalam kenangan dari pemimpinnya?".

Pemberitaan media luar negeri pun gencar. Saluran berita Inggris, BBC, menulis judul "Obama: Indonesia Example to World". Sedangkan Christian Science Monitor menuliskan, "Obama lauds Indonesia for religious tolerance, democratic reform", dan harian terkemuka The New York Times menulis judul "In Jakarta Speech, Obama Addresses Wider Muslim World".

Obama memang menekankan bahwa Amerika tak pernah memusuhi Islam. "(Terorisme) tak ada hubungannya dengan agama apa pun di dunia, termasuk Islam," tuturnya. Namun Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai Obama melakukan repetisi dalam pidatonya.

"Khusus pada bab demokrasi dan agama, itu banyak pengulangan. Termasuk dari pidato kairo. Seperti tak ada yang baru," kata Din Syamsuddin. Tapi, "Secara umum pidato Obama impresif, akrab, dan dekat."

Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik, Dewi fortuna Anwar, mengatakan Indonesia tak boleh besar kepala gara-gara dipuji. "Kita senang dengan pujian itu, tapi kita harus bertanggung jawab untuk merealisasikan keadaan yang lebih baik," katanya. Sebab, kata Dewi, "Pujian Obama soal kerukunan beragama sebenarnya merupakan tuntutan kepada Indonesia untuk benar-benar mewujudkan hal tersebut."

Tak terasa kuliah umum yang dimulai pukul 9.30 itu berakhir tepat pukul 10.00. Obama turun panggung dan, sembari tersenyum, menyalami semua orang yang duduk di barisan depan. Peserta kuliah, yang sudah berkumpul sejak pukul 6.15 di Parkir Timur senayan untuk menuju UI, pun membubarkan diri. "Sayang pidatonya singkat sekali," kata seorang peserta.

Sumber: Koran Tempo edisi 11 November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar